SARMINEWS.COM — Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Seksi Advokasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB/DP3AP2KB) Provinsi Papua, Erwin SIAHAYA, SH, M, Si, menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan Koordinasi dan Sinkronisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Anak Kewenangan Kabupaten yang digelar Pemerintah Kabupaten Sarmi di Ruang Lantai II Kantor Distrik Sarmi, Rabu (17/6/2026).

Dalam pemaparannya, Erwin Siahaya, menyampaikan berbagai kebijakan dan strategi pemerintah dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak. Ia menegaskan bahwa perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama yang harus melibatkan pemerintah, keluarga, masyarakat, dunia pendidikan, hingga lembaga keagamaan.
Menurutnya, berbagai bentuk kekerasan terhadap anak masih menjadi tantangan serius yang perlu mendapat perhatian seluruh pihak. Kekerasan fisik, psikis, seksual, penelantaran, hingga perundungan (bullying) dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Erwin menjelaskan bahwa pemerintah terus mendorong penguatan sistem perlindungan anak melalui berbagai program yang berorientasi pada pemenuhan hak anak dan pencegahan kekerasan sejak dini. Langkah tersebut dilakukan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, edukasi masyarakat, serta penguatan kelembagaan perlindungan anak di daerah.
Ia juga menyoroti pentingnya implementasi program Kabupaten Layak Anak sebagai bagian dari upaya mewujudkan lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan anak. Menurutnya, keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada komitmen pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Erwin Siahaya, memberikan perhatian khusus terhadap keberadaan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM). Ia menyebut PATBM sebagai salah satu instrumen penting dalam membangun sistem perlindungan anak yang berakar langsung di lingkungan masyarakat.
“PATBM menjadi garda terdepan dalam mendeteksi, mencegah, dan merespons berbagai persoalan yang dihadapi anak di tingkat kampung maupun kelurahan. Karena itu, kapasitas dan peran kader PATBM perlu terus diperkuat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh peserta kegiatan untuk membangun budaya peduli terhadap perlindungan anak dengan tidak menutup mata terhadap setiap bentuk kekerasan yang terjadi di lingkungan sekitar. Menurutnya, pelaporan dan penanganan yang cepat dapat mencegah dampak yang lebih besar bagi korban.
Erwin menegaskan bahwa keberhasilan pencegahan kekerasan terhadap anak tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi juga dari terciptanya kesadaran kolektif masyarakat untuk melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan harus terus diperkuat.
Melalui kegiatan koordinasi dan sinkronisasi ini, diharapkan lahir komitmen bersama untuk memperkuat perlindungan anak di Kabupaten Sarmi. Dengan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dapat berjalan lebih efektif demi mewujudkan lingkungan yang aman, nyaman, dan ramah bagi tumbuh kembang anak.(*)
Penulis : Anderson Esris /
Admin : Rahmat



