SARMINEWS.COM : SARMI – Program Taruna Bhakti Tahun 2026 resmi dimulai setelah Menteri Sosial Republik Indonesia, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, memberangkatkan lebih dari 1.000 taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian menuju Sekolah Rakyat di berbagai daerah di Indonesia.
Pelepasan peserta dilakukan dalam apel yang berlangsung di Base Ops Lanud Adisutjipto, Yogyakarta. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pendidikan karakter bagi peserta didik melalui pendampingan langsung oleh para taruna.

Dalam program ini, setiap Sekolah Rakyat akan didampingi lima orang taruna selama lima hari. Pendampingan dilaksanakan bersamaan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun 2026 untuk membantu siswa baru beradaptasi dengan kehidupan berasrama, sekaligus menanamkan budaya disiplin, tanggung jawab, dan kemandirian sejak hari pertama memasuki lingkungan sekolah.
Kehadiran para taruna bukan hanya untuk memberikan pelatihan fisik, tetapi juga menjadi teladan bagi para siswa. Pengalaman mereka menjalani kehidupan disiplin, hidup jauh dari keluarga, bangun pagi secara mandiri, hingga mengatur aktivitas sehari-hari diharapkan mampu menginspirasi peserta didik Sekolah Rakyat dalam membangun karakter dan sikap mandiri.

Selama masa pendampingan, para taruna akan membimbing siswa melalui berbagai kegiatan, seperti pembiasaan menjaga kerapihan lemari dan tempat tidur, materi psikologi lapangan, latihan baris-berbaris, hingga pembentukan pola hidup yang tertib dan teratur. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk membangun karakter, meningkatkan rasa tanggung jawab, serta memperkuat semangat kebersamaan di lingkungan asrama.
Program Taruna Bhakti juga menitikberatkan pada tujuh aspek pembinaan, yakni kepramukaan, pembinaan karakter dan kepribadian, wawasan kebangsaan, kegiatan ekstrakurikuler dan kelompok, kebersihan diri serta lingkungan asrama, bela negara, dan pembinaan keagamaan. Ketujuh aspek tersebut diharapkan menjadi fondasi dalam membentuk generasi muda yang berintegritas, berjiwa nasionalisme, dan berakhlak mulia.
Dalam arahannya, Menteri Sosial juga mengingatkan seluruh pihak agar menjaga lingkungan Sekolah Rakyat tetap aman dan nyaman. Ia menegaskan tidak boleh ada praktik perundungan (bullying), kekerasan fisik maupun seksual, maupun tindakan intoleransi selama pelaksanaan Program Taruna Bhakti. Ketiga hal tersebut merupakan garis merah yang tidak dapat ditoleransi dan harus dicegah oleh seluruh unsur yang terlibat.

Di Kabupaten Sarmi, Papua, Program Taruna Bhakti dilaksanakan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 42 Sarmi. Mewakili keluarga besar sekolah, Yenita Irab saat ditemui media di ruang kerjanya, Senin (3/8/2026), menyampaikan apresiasi sekaligus ucapan selamat datang kepada Taruna Akademi Militer yang akan menjalankan tugas pendampingan di lingkungan sekolah tersebut. Menurutnya, kehadiran para taruna menjadi sebuah kehormatan sekaligus kesempatan berharga bagi seluruh peserta didik untuk belajar secara langsung mengenai arti disiplin, kepemimpinan, kerja sama, tanggung jawab, serta semangat pengabdian kepada bangsa dan negara.
Yenita berharap seluruh rangkaian Program Taruna Bhakti di SRMA 42 Sarmi dapat berlangsung lancar dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi seluruh siswa. Sinergi antara Taruna Akademi Militer dan SRMA 42 Sarmi diharapkan menjadi langkah nyata dalam mencetak generasi muda yang disiplin, mandiri, berintegritas, berkarakter, serta siap mengabdi demi kemajuan Indonesia. (*)





